Monthly Archives: April 2011

Keputusan

Untuk menjadi seorang yang berhasil, kita harus mengambil tindakan untuk meraih apa yang kita inginkan. Dan sementara dalam perjalanan waktu barulah kita akan mempelajari mana cara yang berhasil dan mana yang tidak berhasil.

Banyak orang tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup, namun ketakutan menghalangi mereka untuk meraih sesuatu yang sebenarny

a layak mereka miliki. Suara keraguan di dalam hati berkata “Bagaimana kalau saya salah?” Suara ini kecil tetapi mampu membuat orang berhenti dari bergerak maju untuk mengejar impian mereka. Dan mimpi tetap mimpi selamanya.

Yang benar adalah keberhasilan tidak pernah terjadi tanpa kesalahan. Rahasia kesuksesan adalah kemampuan untuk membiarkan diri Anda untuk membuat kesalahan yang diperlukan dalam perjalanan Anda untuk prestasi. Mengadaptasi filsafatImperfect Action adalah lebih baik daripada No Action dan itu akan membebaskan Anda dari rasa takut pada kesalahan. Ingat Anda layak untuk menjalani hidup Anda apapun itu- dengan cara Anda, apakah itu kesalahan atau jalan yang tepat, apakah itu rasa manis atau rasa pahit, apakah itu pasang atau surut. Dan kadang perlu berpikir Que Sera-sera

Definisi tentang hidup yang berhasil adalah melakukan yang terbaik yang saya bisa lakukan dengan segala sesuatu yang saya miliki, dan satu-satunya cara untuk melakukannya adalah untuk menguji semua yang saya punya.

Advertisements

The true success

Success is not the result of chance or of destiny; it is the outworking of God’s own providence, the reward of faith and discretion, of virtue and persevering effort. The Lord desires us to use every gift we have; and if we do this, we shall have greater gifts to use. He does not supernaturally endow us with the qualifications we lack; but while we use that which we have, He will work with us to increase and strengthen every faculty.

By every wholehearted, earnest sacrifice for the Master’s service our powers will increase. While we yield ourselves as instruments for the Holy Spirit’s working, the grace of God works in us to deny old inclinations, to overcome powerful propensities, and to form new habits. As we cherish and obey the promptings of the Spirit, our hearts are enlarged to receive more and more of His power, and to do more and better work. Dormant energies are aroused, and palsied faculties receive new life. (Ellen G. White)

Que Sera-sera

[Que Sera Sera ditulis pada pertengahan 50-an oleh Jay Livingston dan Ray Evans, yang dipopulerkan oleh Doris Day. Anak-anak dalam video ini berasal dari sebuah sekolah untuk anak-anak cacat yang merupakan proyek dari Princess’s Volunteer Foundation. Video ini menunjukkan sukacita di dalam hati anak-anak dan kebanggaan di mata orang tua mereka. Kita tidak pernah tahu secara pasti bagaimana hidup yang akan kita jalani – Que Sera Sera.]

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here’s what she said to me.

Reff:
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future’s not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here’s what my sweetheart said.

Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.

Jawabku Padamu

Aku hanya mau katakan, “Jangan pernah menyentuh hidup seseorang jika itu hanya akan menghancurkannya.”

Juga aku mau lanjut katakan, “Cinta tak harus memiliki: Itu BOHONG! Semua orang ingin memiliki, bahkan terkadang merasa harus memiliki. Dengan melihat orang yang dicintai bahagia,kita pun turut bahagia: itu juga BOHONG. Kita hanya pura-pura bahagia disaat hati kita sakit, bahkan itu mngajarkan kita untuk menjadi munafik. Lebih baik dicintai daripada mncintai: itu SALAH. Saat dicintai kita merasa bangga, namun saat mncintai kita dapat merasakan arti bahagia yang sesungguhnya.”

Aku merelakan mu pergi bukan berarti karena aku menyerah tapi lebih kepada menyadari dan menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan.

Merelakan tidak berarti melupakan,tidak memikirkan,atau tidak mengacuhkan; juga bukan berarti membendung kenangan atau memikirkan hal2 sedih. Merelakan tidak berarti menang, dan tidak pula kalah; merelakan tidak sama dengan kehilangandan jelas bukan
kekalahan.

Merelakan hanya berarti bisa menyimpan kenangan, tapi juga bisa mengatasinya dan melanjutkan kehidupan, berpikiran terbuka dan yakin akan masa depan; menerima, belajar, menarik pengalaman,dan terus bertumbuh dan berkembang…

Merelakan berkaitan dengan segala yang kau miliki di masa lalu dan yang yang belum tentu kau miliki lagi di masa depan. Semua punya masa lalu tetapi masa depan lebih penting.

Katamu Padaku (bag 2)

Saya orang yang lurus-lurus aja sejak dulu. Aku juga nggak tau apa yang akan terjadi, mengapa jadi begini. Apa karena saya jauh dari keluarga atau memang ternyata benar dari dulu kamu sudah berkesan di hati saya. cuman kan….. tapi malas juga ngomongin jadinya.

Gimana ya saya bilang, ada benihnya saat itu, tetapi terus kamu pergi jauh. Kemudian orang lain menabur dan merawatnya, mungkin sekian persen masih ada dalam hati saya. Waktu akan menjawabnya.

Yang mau saya tekankan lagi ya… Iya gimana ya…. saya takut kalau kamu tidak menepati janjimu. Bagaimana kalau kamu nggak keep your promise. Itu yang aku takutkan akan terjadi.

{Apa pentingnya saya harus pulang.. toh kita tidak bisa sama sama}. Tapi dengan kamu pulang, diatas semuanya ini, kita mau ke surga; kehidupan yang kekal.

Terima kasih semuanya. Kita 12 tahun nggak bertemu terus perasaaan itu bisa balik, saya akan doakan kamu. Saya tidak mengharapkan apa-apa dari kamu kalau kamu sukses nanti. Saya akan doakan kamu.

Kamu harus berdoa. Sementara kamu di sini jangan kecil hati, berkawanlah dengan yang baik-baik. Cari teman yang tidak menjerumuskan kamu pada suatu yang tidak baik. ya…

Lalu sambil kontak teman kamu dulu, kamu akan memperoleh pede kamu. Harus dari dirimu sendiri kamu bisa bangkit. ok?!. Jangan jatuh kekesalahkan yang sama, ingat apa yag sudah aku katakan. Jaga dirimu baik-baik ya sayang…berdoa, supaya Tuhan tuntun langkahmu. ya…

Sebenarnya, saya worry about you sementara kamu sendirian di sini, saya baik baik saja di sana. ok honey. Kamu kan masuk siang, follow the bible lah, hal-hal kecil jangan ditinggalkan. Saya tahu kamu senang baca…

{akhirnya kamu tidak dapat berkata kata, gantinya matamu berkaca-kaca.}

Katamu Padaku

Kata mu pada ku, “keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama.” Membangunkan ku dari tidur lamaku. Bertahun bidukku terkatung di laut, tanpa perduli ikatan pada bintang Kartika. Siuman aku jadinya oleh mu, tapi geliat kesadaran ini membuatku resah pada gelombang yang pasti akan menerpa biduk kecilku.

Kata mu pada ku, “aku tahu hati mu sama saya.” Memang engkau sudah mengambilnya dulu entah kapan. Yang tinggal hanya jantung, usus, dan ginjalku. Kalau yang tinggal kini engkau ambil lagi, apalagi yang akan tersisa di diri ini. Apakah cukup dengan kulit pembalut tulang, dan rongga dada yang kosong melompong?

Kata mu pada ku, “kamu terlalu tenang, sayang ku.” saat tachycardia-ku kumat waktu dekat denganmu. Seperti biasanya bila risau menghadang ku tutup mata ini, dan membiarkan sang kala membawanya pergi. Hanya cara begini ku bisa bertahan hidup. Bila tidak, sudah lama aku berlalu dari kehidupan.

Kata mu pada ku, “suka dengar cadelmu.” Astaga, teganya dikau mengotori selaput genderang telingamu untuk suaraku yang jauh dari serak-serak basah.

Kata mu pada ku, “kamu berpikir unik, smart, detail, lucu.” Waduh beruntungnya aku disejajarkan dengan Doraemon. Itu lho, si kucing robot yang selalu membantu si anak pemalas bernama Nobi Nobita. Cuma kalau boleh aku memilih agar akhirku tidak seperti si kucing robot yang akhirnya mati karena kehabisan baterai.

Kata mu pada ku, “makanya sayang, idealnya pernikahan adalah perpaduan antara cinta dan komitment.” Aku mangguk saja sebab di dalam benak ku telah tertumpuk sampah Auguste Comte yang berkata: keluarga adalah unit ekonomi. Kalau bagian yang dysfunction melemahkan ikatan keluarga maka ia akan diganti.

Kata mu padaku, “tak akan membiarkan ku kehilangan jati diri.” akankah engkau ujinkan tanganmu meraih utas untaian agar ku tak bagai layang-layang putus. Sebab orang yang tercabut dari akar budayanya cenderung kehilangan jati diri dan pada gilirannya lebih tega dan nekat.

Ku tutup mataku kali ini, sebab katamu pada ku perlu “menunggu pagi dimana beban ditinggalkan di tempat tidur.”

Tuntun ku pulang

Tuntun aku kembali rumah, ya bapa
Ketika hidup yang keras berakhir dan hari perpisahan telah datang;
Dekat pada mu aku akan berlindung,
Tuntunlah aku kembali ke rumah.

Tuntun aku kembali ke rumah
Tuntun dengan perlahan
Supaya aku tak jatuh dan tersesat di jalan,
Tuntunlah aku kembali ke rumah.

Tuntun aku kembali ke rumah
Dalam jam kehidupan tergelap,ya Bapa,
Ketika kesulitan hidup datang;

Menjaga langkah kaki saya dari mengembara,
Agar dari mu aku tak pergi jauh,
Tuntunlah aku lembut kembali ke rumah.

Penerjemahan KJV

Documentary telling the unexpected story of how arguably the greatest work of English prose ever written, the King James Bible, came into being.